Thu. Jun 4th, 2020

WWW.INDOPOPULAR.COM

Matahari Lockdown Bisa Bawa Bencana ke Bumi? Ini Penjelasan LAPAN

2 min read

Indopopular.com – Belakangan, fenomena resesi Matahari atau dikenal dengan sebutan Matahari lockdown ramai diperbincangkan di berbagai media sosial. Bukan tanpa alasan, fenomena ini disebut-sebut bisa menimbulkan sejumlah bencana, seperti musim dingin ekstrem, gempa bumi, dan bahaya kesehatan bagi para astronaut yang tengah menjalani misi di luar angkasa.

Matahari lockdown sendiri diartikan sebagai aktivitas permukaan Matahari yang saat ini berada pada periode minimumnya atau disebut solar minimum. Saat itu terjadi, sunspot atau bintik Matahari menghilang sehingga berdampak pada penurunan sinar yang amat drastis.

Matahari disebut telah kehilangan 76 persen sunspot pada 2020.
Hal ini sontak memicu kekhawatiran para ilmuwan akan terjadinya penurunan suhu drastis di Bumi. Salah satu yang mengkhawatirkannya adalah seorang astronom bernama Dr. Tony Philips.

Ilmuwan NASA juga telah menyatakan keprihatinannya bahwa terjadinya solar minimum dapat mengarah pada peristiwa seperti Dalton Minimum yang terjadi pada 1790 hingga 1830. Di mana pada saat itu terjadi kehancuran besar di Bumi akibat sungai-sungai di Eropa membeku dan tanaman utama rusak. Kondisi itu disusul dengan gempa bumi.

Menanggapi hal ini, Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengatakan fenomena Matahari lockdown memang terjadi secara periodik setiap 11 tahun sekali. Namun, ia menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dikaitkan dengan bencana.

“Kejadian sebenarnya fase minimum Matahari, yang merupakan kondisi periodik sekitar 11 tahunan, tidak ada dampak yang signifikan. Bahkan dipastikan hampir tidak ada dampaknya,” ujar Thomas, saat dihubungi kumparanSAINS, Selasa (19/5).
Kalaupun ada dampaknya, maka itu hanya berpengaruh pada variabilitas iklim, bukan pada potensi terjadinya bencana seperti gempa bumi.

“Variabilitas iklim bisa saja kondisinya sangat ekstrem, tapi ini juga ada faktor lain, seperti pemanasan global. Jadi, tidak bisa hanya dikaitkan dengan aktivitas Matahari,” katanya.

Menurut Thomas, respons suhu udara permukaan global terhadap variabilitas aktivitas Matahari 11 tahunan telah diteliti dengan memanfaatkan data suhu udara permukaan jangka panjang (1894 – 1993).

Ilustrasi badai matahari

Dampak dari siklus 11 tahunan ini pernah terjadi pada tahun 2009 hingga 2010. Pada saat itu, musim dingin yang ekstrem terjadi di Bumi belahan utara, termasuk Eropa, Rusia, dan Amerika Utara. Hal itu terjadi diduga kuat terkait dengan aktivitas Matahari minimum yang sangat rendah.

Selain karena disebabkan oleh kondisi anomali aktivitas Matahari, kondisi iklim yang ekstrem yang terjadi di belahan Bumi utara juga karena disebabkan oleh pemanasan global. Selain itu, lingkungan antariksa juga terdampak dengan lambatnya pembersihan dari sampah antariksa di orbit rendah karena terjadi penurunan kerapatan atmosfer.

Jadi, kata Thomas, tidak bisa fenomena Matahari lockdown dikaitkan dengan bencana alam. Fenomena Matahari lockdown hanya akan berpengaruh pada variabilitas iklim. Adapun cuaca ekstrem di beberapa daerah bisa saja terjadi karena ditengarai oleh faktor lain, seperti pemanasan global.

Sungai Yenisei tertutup es selama musim dingin di Krasnoyarsk, Rusia

Senada dengan Thomas, Mather Owens, seorang profesor fisika luar angkasa di Reading University mengungkapkan, sejarah tidak akan terulang kembali. “Meskipun solar minimum yang terjadi ‘cukup parah,’ janganlah kita khawatir akan kembali memasuki zaman es mini,” katanya.

Owens meyakinkan bahwa Matahari lockdown terjadi setiap 11 tahun, jadi ini adalah kejadian yang cukup teratur. Dia mencatat dampak Matahari lockdown terparah terakhir kali terjadi pada 2009-2010, dan seharusnya menjadi yang terdalam selama 100 tahun terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *